Rabu, 07 Agustus 2019

Cerita Bagaimana Izzah Belajar Menerima


Semoga hari ini kita tetap dalam keadaan baik - baik saja. Dalam artian hati dan tubuh kita.
Cobalah untuk membacanya tanpa rasa menggurui atau bahkan menghakimi saya. Karena saya masih belajar. 😊



Manusia adalah makhluk Tuhan yang memiliki hati dan pikiran karena keduanya manusia diciptakan secara sempurna lebih baik dari makhluk-makhluk lainnya. Ia juga bersamanya juga tumbuh Nafsu dan Nurani. Banyak Hal menarik tentang manusia untuk dikaji, baik secara sosial, keagamaan atau bahkan psikologinya. Semua menawarkan pesonanya masing-masing. Namun Kali ini saya akan sedikit bercerita tentang bagian hati seorang manusia.

Sebagai seorang yang hidup dan menghirup udara di bumi serta menjadi bagian kecil dari dunia ini. Saya juga bagian dari banyaknya manusia yang tinggal dan menikmati setiap proses kehidupan. Awalnya susah, terlebih saat saya menginjak usia kursial yaitu 20.an tahun. Usia dimana saya mulai mempertanyakan, kenapa ibu dan ayah saya bercerai ? Kenapa saya harus tinggal disini bersama nenek kakek sedangkan ibu bersama suaminya di Singapore ? Kenapa saya masih saja merasakan kesepian meski apapun yang saya inginkan dapat saya miliki ? Kenapa saya rasanya ingin Mati Dan meninggalkan dunia ini ? Dan pertanyaan lainnya. Saya pribadi tidak mengerti apakah yang terjadi di usia 20.an akan selalu mengupas pertanyaan-pertanyaan yang jauh lebih sensitive dari pada jajan atau main dimana.

Semua bercampur berkecamuk dalam pikiran saya, saya kelihatan energik, tertawa dan bercerita seperti layaknya orang biasa. Namun setiap orang bahkan tidak mungkin tahu apa yang ada dipikiran saya. Dan sepertinya hal seperti ini wajar bagi semua orang. Mencoba menutupi luka agar semua terlihat baik-baik saja. Menutupi kesedihan agar nampak tegar dan kuat. Dan pada akhirnya saya dapati semua adalah pembohong bagi diri kita sendiri.

Ingin saya katakan, saya lelah dengan segala drama kehidupan yang terjadi pada diri saya.
Tuhan apakah kau mempermainkan hidup ku ? Tuhan kenapa tidak kau cabut saja nyawaku emmm ??
Saya ingin marah, marah pada semua yang sampai pada detik ini berlaku egois terhadap diri saya.
Tapi untuk mengungkapkanya saja saya tidak mampu.
Saya sedih, sedih atas apa yang saya terima dalam hidup ini.
Tapi untuk mencoba semua terlihat baik-baik saja itu bukanlah perkara yang mudah.
.
Namun semua adalah bagian dalam hidup saya. Yang tidak mungkin dapat dipisahkan. Karena saya sadar, saya bukan lah orang yang bisa mengubah garis hidup saya sesuai dengan apa yang menjadi keinginan saya. Akan tetapi setidaknya untuk Kali ini.

Tuhan yang memiliki setiap detik kehidupan atas semua makhluk di dunia.
Tuhan yang memberikan kasihNya kepada seluruh alam.
Saya percaya tidak ada niat buruk dariNya untuk saya. Dari pada niat buruk , Tuhan memberikan hadiah yang sangat luar biasa namun terbungkus dengan cara yang berbeda. Semua yang saya lewati tentunya sangat berat, tetapi dengan semua itu saya dapat berdiri hingga saat ini. Meski saya miliki banyak sekali cacat dalam diri, namun saya tetap akan belajar menerimanya.
.
Saya mengerti bagaimana menjadi anak yang berada ditengah-tengah keluarga yang broken home, semua akan terlihat baik-baik saja. Namun pada satu moment semua menjadi sebuah pertanyaan yang sensitive. Untuk memahami itu semua. Kita memerlukan waktu yang panjang. Sama halnya dengan banyaknya ujian yang Tuhan berikan. Seberat apapun itu, kita hanya belum terbiasa untuk menyelesaikannya. Pelan - pelan bersama waktu yang akan menuntun kita menuju kedewasaan semua akan menjadi lebih baik, bukan ujian Tuhan yang berjuang. Namun kekampuan diri yang terasah membuat kita jauh lebih dapat menerima apapun Hadiah dari Tuhan.
.
Waktu akan menyembuhkan setiap luka karena Tuhan tidak akan melukai ciptaanNya. Dengan kasihNya yang melingkupi semua alam semesta. Kita hanya perlu untuk belajar Menerima.
.
Tentreme manah lan pikiran iku
Nderek seikhlasane meniro deneng Gusti.
Nerima becik lan Olo
Susah lan senenge

1m1c
M32
#30dwc
#jilid19
#squad7 

1 komentar:

  1. Ada banyak kesempatan di mana saya berpikir, I'm nothing. Ada atau tidak adanya saya di dunia ini bukan apa-apa.

    Ada keluarga memang. Jika saya pergi, mereka akan sedih sementara. Hidup mereka akan lanjut, tapi saya sudah.

    Tidak ada yang benar-benar menyayangi saya. Dan ini pernah saya ungkapkan ke satu dua orang.

    Mereka pikir, saya tidak masuk akal.

    Kemudian saya berpikir lagi. Seandainya ada salah satu anggota keluarga/orang terdekat saya yang juga berpikiran seperti itu, lalu dia pergi.

    Jelas saya akan sedih, dia membuat saya sedih. Saya tidak mau kehilangan dia betapa menyebalkannya.

    Karena sesuatu akan terasa lebih berharga saat sudah tidak ada.

    BalasHapus