Rabu, 17 Juli 2019

Keluarga adalah segalanya

Keluarga adalah Segalanya

Keluarga adalah segalanya. Tidak ada yang dapat membeli atau menggantikan keluarga. Sebuah kelurga terjalin bermula dari sebuah pernikahan laki-laki dan perempuan, menjadi istri dan suami lalu saat mereka menghadirkan seorag anak manusia yang disebut anak maka panggilannya berubah menjadi bapak dan ibu. Keluarga biasanya memiliki bahasanya sendiri dalam berkomunikasi antara anggota keluarga. Maka diperlukan waktu dan proses panjang untuk membangun sebuah ikatan yang istimewa didalamnya. Kenapa saya sebut istimewa karena keluarga adalah sebuah tatanan kecil dalam sebuah lingkungan masyaraat namun memiliki arti yang penting tanpa keluarga masaka masyarakat juga tidak dapat terbangun dengan baik.
Berbicara tentag keluarga, saya pribadi belum menikah dan rasanya akan sangat jauh dari kata pantas untuk berbicara keluarga terlalu detil, namun tetaplah membaca catatan kecil ini, semoga dapat menjadi pengingat kita semua, karena tulisan ini akan berisi tentang keluarga dari sudut pandang anak.

Jika aku bisa . . .
Memilih keluarga seperti apa aku akan dilahirkan
Seperti apa Bapak sebagai sosok laki-laki yang menjadi hero bagi diriku baik didalam rumah ataupun diluar rumah
Seperti apa Ibu yang akan tetap memelukku hangat disaat diriku tidak yakin akan diri ku sendiri.
Andai aku bisa . . .
Namun nyatanya Tuhan tidak memberikan itu semua secara sempurna dimataku, namun setelah aku mengerti Tuhan memberikan yang terbaik untuk setiap manusia, meski saya butuh waktu untuk mengungkapkannya.


Kisahku 23 years I know . .
Lahir dari keluarga broken home tak lantas membuatku menjadi anak yang nakal, saya belum pernah nakal dalam artian nakal-nakalnya anak zaman millenial yang akrab dengan clubbing, drunk, sex ataupun nakroba. Bilang saja saya cukup beruntung karena meski hidup dari kecil tanpa ibu dan bapak, saya masih memiliki nenek dan kakek yang sangat telaten menemani saya pergi mengaji dan sekolah Madrasah hingga masuk pesantren. Kenakalan saya hanya pada Streaming Drama Korea, membaca webtoon, wattpad dan selancar bebas di Intagram. Tidak bermanfaat memang namun setidaknya itu cukup untuk menjadi hiburan disaat sepi mulai melanda.

Keadaan Broken Home atau berpisahnya dua orang yang seharusnya mempunyai arti penting dalam sebuah kelurga mungkin lambat laun akan mudah tertobati bagi kedua belah pihak namun bagi seorang anak itu tidaklah cukup mudah untuk dipahami. Terlebih saat anak sudah memasuki usia 20.an Tahun. Dimana dia akan belajar melihat keadaan dunia sebagai dunia dan masa untuk membangun prinsip hidup atau pandangan hidupnya sendiri, namun dia masih memiliki kekurangan dalam sebuah ruang hatinya yaitu hilangnya makna sebuah keluarga.

Entahlah harus beruntung atau tidak, saya bertemu ibu dan bapak sambung saya saat berusia 10 tahun dan selebihnya hanya dalam hitungan jari kita dapat disebut sebuah keluarga normal yang tinggal dalam satu rumah atau setidakanya menghabiskan waktu bersama, kini hingga usia saya 23 tahun saya masih tidak bisa merasakan arti kelurga. Apa yang saya miliki ? saya tidak memiliki apapun, etika pulang kerumah hanya rumah kosong yang saya jumpai bahkan pada satu titik fase hidup terendah saya, saya berpikir untuk mengakhiri hidup saya saja, tetapi jika saya meninggal adakah orang yang menyadari itu ? ah atau adakah yang akan menangisi saya ?  saya hanya akan menangisi hidup saya sendiri. Hidup yang harusnya digunakan dengan baik namun berkahir dengan putus asa. Akhirnya saya memilih untuk melawan itu semua.

Jika aku bisa memiliki kesempatan, saya akan berkata.
Terimakasih sudah memberikan uang saya setiap bulannya, dengan uang itu saya dapat tumbuh besar dan berdiri hingga saat ini, selebihnya jika Tuhan tidak sangat kasian kepada saya mungkin saya akan tidak akan berada sampai tulisan ini saya buat.
Jika arti menyayangi anak, bertanggung jawab kepada anak adalah dengan memberikan ia uang, maka tidak ada yang jauh lebih baik dari ibu dan bapak.
Saya tidak akan menunut apapun, tidak akan berkata apapun, saya hanya terus berdoa semoga ibu dan bapak sehat dan bahagia.
.
****
Tulisan ini sangat garing karena sudah lama saya tidak menulis. Mungkin juga tidak menyentuh. Namun sebagai catatan seorang anak, tidak ada yang membuat anak itu rapuh selain rapuhnya arti keluarga bagi dirinya, seorang anak akan mampu menghadapi apapun, siapapun didunia ini ketika keluarga yang ia miliki kokoh dan damai. Bukan jusrtu terbailik dia harus memiliki luka yang diberikan oleh keluarganya sendiri, oleh orang-orang yang sangat penting bagi dirinya. Karena Keluarga adalah Segalanya


24 komentar:

  1. Salut dengan Izzah yang tetap bisa tegar dan bisa melawan semua keputus asaan. Semoga suatu saat, jika Tuhan berkehendak, bisa berkumpul bersama ibu dan ayah seperti layaknya keluarga yang Izzah inginkan.
    Yup, kita tidak bisa memilih dari rahim siapa kita nanti dilahirkan, siapa ibu atau ayah kita.
    Terima kasih untuk sharingnya, keluarga dari sudut pandang anak, akan menjadi pengingat buatku pribadi sebagai orang tua, untuk terus belajar menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak, karena bagiku juga keluarga adalah segalanya.

    BalasHapus
  2. Meski blm berkeluarga tapi sudah punya pandangan jauh ke depan tentang keluarga. Salut saya. Semoga kelak berumah tangga mendapatkan suami yang pengertian dan sejalan ya. Suka dan duka bersama sampai mau memisahkan. Amin.

    BalasHapus
  3. Banyak hikmah dan pelajaran yang mungkin saat ini terasa menyesakkan dada, Izzah. Namun yakinlah di suatu hari di masa depan, engkau akan bersyukur karena sudah mempelajari banyak hal tentang kehidupan di masa muda. Insya Allah saat berkeluarga nanti rasa kasih sayang bisa tumbuh subur dalam keluargamu dan mengisi hatimu yang sudah berjuang luar biasa sejak muda.

    BalasHapus
  4. TabarokAllah Izzah yg cantik nan shalihaatt. Allah akan selalu ada membimbing dan menuntun langkahmu yaaa

    BalasHapus
  5. Jangan menyerah mbak say, never lose hope Meskipun pahit tapi jalani dengan sabr yah mbak karena masih banyak org yang sayang pada mbak

    BalasHapus
  6. Wah iyaaa lama ya nggak nulis, aku cari-cari loh. Setiap keadaan pasti ada hikmah dan campur tangan Allah di dalamnya. Tinggal Izzah jalani dengan penuh rasa sabar dan ikhlas. Ikhlas yang tulus dengan menerima setiap kondisi, bersyukur dengan keadaan yang ada di hadapanmu. semoga Allah berikan kehidupan keluarga bersama pasangan yang terbaik menurut Allah azza wa jalla, aamiin

    BalasHapus
  7. Semangat terus ya kak Izzah.
    Terimakasih sudah berbagi ceritanya.

    BalasHapus
  8. aku ngebayangin yang nulis cerita ini adalah anakku, buat aku dan suami hehe pasti mewek deh... semangat ya Mba Izzah

    BalasHapus
  9. Terima kasih udah nulis tentang ini yah Izzah sebagai pengingat juga untuk kita para ibu supaya lebih peka dengan perasaan anak. Semangat terus yaaaah, kirim peluk jauh dari Bandung :))

    BalasHapus
  10. Mbaaa semangaat yaa. Bagaimanpun tetap ada keluarga yang selalu dukung, selalu spport kita terus :)

    Apalagi mellaui lantunan doa yang mungkin kadang nggak kita sadari

    BalasHapus
  11. Terima kasih banyak sudah berbagi cerita di blog. Tetep semangat ya mba semoga nanti bisa punya keluarga idaman.

    BalasHapus
  12. Izzah terus menulis y. Orang bijak bilang " Menulis itu sebagai healing" MuA ada yg baca atau enggak. Jadi teruslah menulis.

    BalasHapus
  13. Saya justru merasa tersentuh dengan tulisan ini. Tidak terasa garing sama sekali. Saya do'akan semoga apa yang dirasakan Izzah saat ini dan masa lalu, akan menjadi pelajaran berharga. Membuat Izzah menjadi lebih baik. Aamiin

    BalasHapus
  14. Keluarga memang segalanya. Jika pun ada yang terjadi di luar harapan kita, yakinlah pasti Allah menyimpan maksud tertentu.

    Saya lihat justru Izzah terlihat dewasa dalam menyikapi semuanya. Dan ini proses yang gak mudah. Salut untuk Izzah. Semangat terus ya, sayaang, semua pasti ada hikmahnya. Peyuuuk eraaat!!!

    BalasHapus
  15. Dulu pernah berpikir "andai begini, andai begitu", tapi lalu akhirnya kepikiran, buat apa? Karena yang didapat sekarang atau di masa lalu justru yang akan memperkuat masa depan. :)))))

    BalasHapus
  16. Semua yg terjadi semoga menjadi sebuah pembelajaran yg berharga ke depan.. berlian menjadi batu yg berharga setelah ditempa kekerasan yg luar biasa yg tdk pernahe dirasakan batu2 lain yg tak seindah berlian..

    BalasHapus
  17. Semangaaat ya mba.. aku punya masa kecil yang rough but it all shaped me like I am now

    BalasHapus
  18. Harus terus semangat yaa mba izzah.. bagaimanapun juga Allah telah memberikan kakek nenek istimewa yang bisa mba buat bangga. Semoga sukses selalu yaaa
    keep writing!

    BalasHapus
  19. Wah wah... tetap semangat ya Kak. Semangat!
    Kalau aku punya masa kecil yang nggak bisa bermain tapi juga nggak nakal.
    But, semua itu bisa menjadi pembelajaran untuk kita semua.

    BalasHapus
  20. gak garing kok mbak izzah
    aku bacanya senyum :)
    semangat selalu yaaaaaa
    keluarga itu tempat kita pulang, bagaimanapun dan apapun keadaannya , namanya keluarga mereka paling dekat dan harus jadi dekat :)

    BalasHapus
  21. Semangat sellau ya Mba, aku punya bapak juga nggak pernah ketemu ahhahaha
    Pokoknya jangan lelah mendoakannya ya Mba.
    Semangat menulis.

    BalasHapus
  22. Pada paragraf "Lahir dari keluarga broken home..." Seketika terbayang kebanyakan polah anak milenial yang broken home. Namun, pada kalimat selanjutnya, saya menjadi salut dan kagum dengan Mba Izza. Aku sudah berkeluarga. Jadi semakin yakin dengan membaca tulisan ini bahwa keluarga memang segalanya...

    Salam kenal Mba, tetap semangat..

    BalasHapus